ini hujan penghabisan. begitu tipis dan sejenak. tapi aku tetap membawa payung ibu yang panjang, berat dan antilipat itu dengan langkah-langkah manja. jarang sekali langit yang saat itu memuntahkan airnya begitu gelap di penghujung siang ini.
sebuah kafe di pojokkan jalan sepertinya mengundangku untuk berteduh. mungkin secangkir teh hangat yang pastinya berharga tak masuk akal bisa menghangatkan badanku, pikirku. tapi setelah menimbang-nimbang, dan kafe itu yang menang, aku putuskan untuk masuk kesana dan memesan secangkir teh yang sudah kubayangkan dari tadi. aku pun menyeruputnya perlahan sambil menikmati suasana kafe ditengah guyuran hujan sore itu.
secangkir teh dan sepotong pie nangka di hadapanku pun tandas juga . langit kembali terang ketika sesaat kulangkahkan kaki keluar kafe. aku sudah berjalan cukup jauh saat teringat payungku tertinggal di sana. aku panik. aku berbalik dan berlari kencang menuju kafe.
"itu dia payungku" pekikku
dari dinding kaca kafe terlihat pemandangan yang mengesankan. pengunjung kafe tampak berwarna-warni seperti ikan tropis dalam aquarium. payungku masih berada ditempat semula. tapi mejaku sudah ditempati seorang lelaki yang kelihatannya cukup menarik.
aku melangkah masuk dan mendekati mejaku. lelaki itu sedang mencorat-coret sesuatu diatas kertas sambil sesekali tangannya memencet kalkulator. ransel besarnya tergeletak disekat kakiku. pastilah ia mahasiswa, selidikku.
"maaf,saya...." aku bersuara. ia mengangkat wajahnya. oh, aku salah! ternyata ia bukannya cukup menarik tapi sangat menarik.
"tidak bisa! duduk ditempat lain saja!" sok galak. tapi bahkan keketusannya tidak mampu mengurangi daya tariknya. delapan setengah.
aku mencibir dan langsung ngeloyor pergi mengambil payungku begitu saja. ia tidak terlihat terkejut atau merasa bersalah. kembali ia menunduk dan menghitung-hitung sesuatu pada kertas. aku mundur dan berlalu. tapi entah mengapa, merasa kalah.
aku sedang menulis inspirasi terbaruku saat sebuah bayangan besar menggelapi notesku. aku mengangkat wajah. lelaki delapan setengah itu sedang berdiri di sisiku dengan pandangan menuntut. aku melihat sekeliling. semua meja terisi.
"tidak bisa. hari ini meja ini milikku!"
dengan demonstratif aku langsung menaikkan salah satu kakiku mangisi satu-satunya kursi di depanku untuk mencegah pria itu mendapatkan kursinya. putus asa, ia mendesah dan pergi. hha..ha..ha! satu sama!
esoknya, ia lebih dulu menguasai meja di sudut kafe itu. bahkan, satu kakinya sudah ditumpangkan diatas 'kursiku' . dengan tenang kusandarkan payungku di dinding dan kuambil ancang-ancang untuk tetap duduk. untunglah dia segera menarik kakinya dari kursi sehingga tidak perlu terjadi sesuatu yang memalukan. aku berbisik lirih,
"sudahlah... sudah impas, kok!" dan dia mengerti.
ia kembali pada kertas-kertasnya dan aku menuntaskan khayalanku tentang seorang gadis kesepian yang kini memiliki teman minum teh bersama.
hari-hari berikutnya cukup menyenangkan. tanpa bicara kami mengisi meja itu, mengisi cangkir-cangkir dengan teh dan mengisi kertas-kertas dengan coretan. sepertinya ia setuju berbagi meja denganku.
setiap pukul empat sore meja itu seperti ditahbiskan menjadi milik kami. aku pernah datang terlambat dan kulihat lelaki delapan setengah itu sudah meletakkan ranselnya diatas kursiku. ia menjaga kursiku untukku. terimakasih.
skenario terbaruku akan segera difilmkan. aku fikir aku perlu berbagi kebahagiaan dengan partner mejaku.
"kali ini biar aku yang bayar!" aku menyela hitungannya
ia meletakkan pensilnya dan mengangkat wajah,
"baru menang undian?"
aku menggeleng, "umm...bukan! aku sedang senang karena skenarioku akan difilmkan"
dia mengernyitkan kedua alis tebalnya yang langsung bertaut. wah, delapan koma tujuh lima!
"kamu p-enulis skenario?" dari nada suaranya ia tidak percaya
aku mengangguk dan anggukanku langsung mengakhiri percakapan pertama kami setelah berbulan-bulan berbagi meja.
akhirnya kami sepakat untuk merayakannya dengan menonton pemutaran perdana filmku di bioskop, beberapa bulan kemudian. ceritanya tentang sepasang kekasih yang jatuh cinta setelah lama bersama tanpa kata-kata. jujur saja, aku memang terinspirasi kisahku sendiri. bedanya, belum ada ending dikehidupan nyataku.
tidak ada komentar sedikitpun darinya, baik pujian atau hinaan. selama menonton ia terdiam. kami pun berpisah di pintu bioskop tanpa kata-kata. aku jadi ingin bertanya padanya "apakah ceritaku mengganggumu?"
tapi kalimat itu berhenti diujung lidah.
disuatu sore yang cerah aku, payungku, dia, dan ranselnya termenung. aku kehilangan ide dan sudah sepuluh menit pensilnya tidak bergerak. mereka mengobrol dalam bahasa benda.
tiba-tiba ia meletakkan pensilnya dan mengangkat wajahnya untukku.
"aku seorang analis keuangan!" katanya dengan lantang. dengan celana khaki, jaket kasual, dan ranselnya? aku tidak percaya! tapi memilih untuk tidak bertanya. kami sama-sama terdiam dan pura-pura melanjutkan corat-coret kertas. akhirnya ia bersuara lagi.
"boleh aku mengantarmu pulang, ehm... penulis skenario?"
aku tersenyum, " namaku Dilla"
dan lelaki delapan koma tujuh limaku yang ternyata bernama Arfan itu akhirnya mengantarku pulang kerumah dengan berjalan kaki. ia menggendong ranselnya dan aku mengayun-ayunkan payungku.
sekarang kami minum teh sambil mengobrol, satu hal yang setahun lalu tidak kami lakukan. ternyata sungguh menyenagkan.
"mengapa begitu lama memutuskan untuk mengantarku pulang?" sesuatu yang terfikir dibenakku akhirnya keluar juga. ia menatapku lurus-lurus.
"aku perlu setahun untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada lelaki yang mengantarmu pulang. aku tidak mau mengambil resiko dihajar orang yang tidak kukenal tapi kamu....cintai"
ah, mana bisa kusisipkan lelaki lain dihatiku. sejak ia menduduki mejaku, saat itu juga ia menguasai hatiku. kuletakkan tanganku diatas tangannya yang kekar. jari kami bersentuhan dan dengan berani kugenggam tangannya,
"hanya kamu yang boleh mengantarku pulang" aku berbisik.
ia tersenyum dan ganti berbisik
"syukurlah, ini tidak sia-sia. aku sudah menghabiskan begitu banyak uang untuk teh dan pie setahun belakangan ini hanya untuk memandang tubuh mungil dan senyum manismu"
kami tertawa dan menyadari kekonyolan kami setahun ini.
jadi untuk membayar pemborosan itu, kami memutuskan untuk tidak hanya berkencan disudut kafe tapi juga dijalan-jalan kota yang hangat dan ramai. ia,ranselnya, dan aku dengan payung kuningku yang besar. rupanya ada hal yang benar-benar menggelitik hatinya untuk bertanya.
"mengapa selalu membawa payung? bukankah sekarang sedang jarang turun hujan?"
aku berhenti melankah dan menatapnya
"mengapa selalu membawa ransel yang begitu besar padahal yang kamu perlukan hanya beberapa lembar kertas dan sebuah kalkulator?"
ia berfikir, dan sepasang alis tebalnya bertaut lagi,
"jika aku berjanji untuk meninggalka ranselku dirumah apakah kamu berjani akan melakukan hal yang sama dengan payungmu?" sepertinya ia yakin sekali bahwa aku pasti akan tertarik dengan idenya. ia tanpa ranselnya dan aku tanpa payungku.
aku terdiam dan menggeleng perlahan
"aku tidak bisa"
"mengapa?"
"aku tidak tahan terhadap sinar matahari..." suaraku terdengar sangat lirih bahkan di telingaku sendiri. kini matanya yang bertanya, dalam dan bingung
"aku tidak boleh...terpapar sinar matahari, aku harus minum obat empat kali sekali dan tidak boleh terlalu lelah. sudah dua tahu aku mengidap lupus dan sekarang penyakitku sudah cukup akut"
tidak seperti yang kuperkirakan, ia tidak tampak tersentak tapi kini tatapannya seperti hampa.
ia lalu mengantarku pulang tanpa bicara dan itu kali terakhir aku melihatnya.
ini adalah sore pertama aku duduk hanya berdua di meja kafe. aku dan cangkir teh ku, bertiga dengan payungku. ia tidak pernah datang lagi bahkan untuk mencoret-coret kertasnya. akupun belajar untuk tidak menunggunya lagi dan memutuskan untuk segera melupakan meja disudut kafe.
tiba-tiba diluar turun hujan penghabisan, begitu tipis dan sejenak. aku keluar sambil mengembangkan payung kuningku yang besar dan berjalan pulang. aku menoleh ke sudut kafe kepada kenangan tentang cangkir-cangkir teh, pie, dan lelaki delapan koma tujuh limaku. ia perlu setahun untuk memutuskan mencintaiku, tapi ia hanya perlu sehari untuk melupakan aku.