Mei, 2004
"Kapan kau pergi?" tanyaku suatu senja.
"lusa" jawabmu dengan wajah mengembara.
"mengapa kau tidak bisa tinggal, lalu bagaimana dengan aku? dengan cinta kita?".
"suatu hari aku akan kembali, jika apa yang kucari sudah kudapat".
"mengapa tidak hari ini saja?" tanyaku menuntut.
"aku masih belum memiliki apa-apa untuk membuatmu bahagia!"
"kau sudah memilikinya, cintamu! aku tak menginginkan yang lain!.
"apa cukup dengan cinta saja?"
"kita akan bekerja apa saja, kau dan aku! kita mulai dari nol, pasti bisa!"
"lalu bagaimana dengan orang tuamu? apa kata mereka bila anak gadisnya yang biasa hidup berkecukupan menikah dengan lelaki yang tak punya apa-apa selain cinta?"
"mengapa kau begitu peduli apa kata mereka?"
"karena mereka orangtuamu".
"lalu kalau suatu hari mereka memintaku menikah dengan orang lain, bagaimana?" tanyaku setelah lelah beradu argumen denganmu.
"kalau kau bahagia kenapa tidak?" jawabmu kemudian dengan lirih.
Aku terdiam. aku benar-benar lelah dengan sikapmu. keputusan yang kau ambil membuatku berharap tak mencintaimu. tapi kenyataannya, cintaku bagai penjara yang membuatku tak bisa bergerak dan bernafas lega. keteguhan hati yang ingin kau tunjukkan membuat aku muak. kau hanyalah lelaki desa dengan cita-cita besar agar dianggap pantas untukku.
aku benci, aku lelah. tapi aku tak pernah mampu melupakan mu. wajahmu yang pongah terus menari sepanjang waktu.
Juni, 2009
itulah percakapan terakhir kami disuatu sore, selepas itu tak secuil pun kabar kuterima darimu hingga lima tahun berlalu. kau hilang dimakan impian untuk menjadi orang besar dan penting di kota. dan aku merana, hidup dalam ketidakpastian. pada awalnya orang tuaku senang dengan kepergianmu, namun akhirnya diam-diam merekamenyesalinya karena hingga detik ini aku masih saja sendiri. setelah lelah memaksaku menikah dengan beberapa lelaki, akhirnya mereka membiarkanku hidup dalam kesendirianku.
aku tak bisa melihat hal lain kecuali kenangan tentangmu. terlebih ketika kau katakan aku satu-satunya gadis yang kaucintai sepenuh hati. sejak saat itu mata, hati dan jiwaku tak sanggup lagi melihat ketempat lain selain padamu.
hingga suatu pagi yang bermandi matahari, aku bertemu dengannya dipinggir jalan desa. waktu terasa berhenti ketika pandangan kami beradu. matanya bercahaya dan senyumnya memaku mataku. meski sapanya tak kubalas, ia tetap tersenyum padaku.
beberapa hari kemudian kudengar cerita seorang guru datang ke desa ini menggantikan Pak Karip, guru sekolah desa yang telah berpulang sekian bulan yang lalu. apa yang dicarinya di desa terpencil ini? paling- paling cuma sebentar dia bertahan, setelah itu dia kabur ke kota mencari kesempatan lebih baik seperti yang lainnya, pikirku sambil lalu.
seminggu kemudian, Nuri, teman kecilku Menikah dengan Agung. aku memaksakan diri datang mendampingi. sebenarnya hatiku enggan, karena setiap kali muncul di keramaian pasti diberi pertanyaan yang sama, "kapan menyusul? ayo cepetan, mumpung bulan baik!" begitu selalu tetangga-tetangga mengusikku. seolah mereka lupa kisah cintaku dengan seorang pemuda desa yang pergi tanpa kabar berita.
ketika sibuk dengan lamunanku, sebuah suara menegur ramah. "Nuri malam ini tampak semakin cantik! apa suasana hati bisa memengaruhi wajah seseorang?" tanyanya bertubi.
kupalingkan wajah mencari datangnya suara. disebelah kursiku duduk lelaki yang kutemui dijalan desa waktu itu.
"mungkin" jawabku singkat.
"oya, kenalkan nama saya Faradi!" katanya sambil mengulurkan tangan. kubalas dengan menyebut namaku.
kemudian berbagai pembicaraan seputar Nuri dan yang lain membuat ku kerasan duduk bersamanya. menjelang malam aku pamit. dia bertanya apakah aku bersedia bertemu dengannya lagi. kujawab, kita lihat saja besok.
dua hari kemudian pintu kamarku diketuk dari luar.
"ada tamu ,nak!" kata ibu dengan wajah sumringah.
"siapa?" tanyaku kemudian.
"namanya Faradi, nama yang bagus sebagus orangnya!"
diam-diam jantungku berdetak lebih keras, siapa lagi yang punya nama Faradi selain guru baru yang kukenal beberapa hari yang lalu.
"maaf,mengganggu istirahatmu! aku hanya mampir untuk menagih janjimu tempo hari!" katanya memberondong.
"janji apa? memangnya aku pernah janji apa dengan kamu, kak?"
"janji untuk menemuiku lagi!"
"O, itu!" sahutku penuh basa-basi.
" bagaimana kabarmu?"
"biasa saja! kamu sendiri?"
"yah.. makin sehat karena udara pegunungan yang segar! makanya orang sini ramah semua karena lingkungannya ramah terhadap kesehatan jiwa dan raga".
"ah.. itu 'kan bagimu, karena kau baru beberapa waktu disini. kalau untuk aku yang seumur-umur disini, ya biasa saja. sifat manusia dimana-mana 'kan sama".
"kamu kok begitu pesimis? apa pernah ada masalah dengan sifat manusia disini?"
"ah, sudahlah. jangan membuat hatimu berkurang sukacitanya!"
"tidak aku hanya menyayangkannya"
"aku! kenapa dengan aku?"
"wajahmu sebenarnya cantik, tapi bisa lebih cantik lagi kalau kau lebih sering tersenyum"'
seusai kalimatnya aku hanya bisa diam. dalam hati aku menyesal mengapa orang yang baru ku kenal bisa langsung membaca keadaan hatiku. benarkah wajahku seperti buku yang terbuka, dimana semua orang akan dengan mudah membaca.
"maaf kalau perkataanku membuatmu marah!"
"kau hanya mengatakan sebuah kebenaran! mengapa aku harus marah?"
"maaf kalau boleh aku tahu namamu sebenarnya siapa? kenapa mereka memanggilmu Da?"
"Rinda. orang disini biasa memanggil dengan penggalan nama belakang".
"namamu bagus. enak didengar"
"terimakasih, bapak!"
"ha..ha..ha.. ! rupanya muridku bertambah satu hari ini".
kubalas dengan senyuman yang paling manis. tiba-tiba hatiku terasa hangat, sangat hangat. mungkin karena kehadirannya, mungkin karena cara bicaranya atau apalah aku tak tahu.
semenjak itu hari-hariku terisi kehadirannya. kedewasaannya menular padaku. hari demi hari makin dalam hatiku tersentu olehnya. tapi tetap tidak bisa kuingkari kenyataan bahwa jiwaku masih berjalan dipinggiran hutan jati bersama Danni. kalbuku masih sering mengembara ketempat-tempat yang penuh kenangan bersamanya. cintanya masih membelengguku hingga hari ini.
Suatu hari tubuhku jatuh sakitkarena tak sanggup menahan beban fikiran. ku curahkan semua beban fikiranku kepada Nuri dan ia hanya menatap tajam padaku.
"mengapa tidak kau nikmati saja cinta yang kini kau rasa? bukankah cinta tidak setiap saat datang! dan kemudian biarkan waktu yang bicara!" ucapnya menenangkan.
tapi bukannya tenang, hatiku malah bingung dan esoknya aku tak bisa meninggalkan tempat tidur karena kepalaku berat dan badanku berkeringat dingin.
pagi itu juga Faradi menjengukku. tangannya menggenggam erat tanganku. tatapannya penuh kekhawatiran. mulutnya terkunci rapat. yang ku tahu dia memikirkan sakitku. aku tertawa dalam hati. beginikah rasanya dicintai? mengapa harus dia yang hari ini bersamaku? bukannya Danni yang sangat kucinta?
"Rin, aku kenal baik dokter desa sebelah, bagaimana kalau kita kesana! mungkin dengan obat yang tepat kau akan cepat sembuh!" kalimatnya mengakhiri kebisuan kami.
"terimakasih kak Fadi, aku tidak apa-apa. hanya dengan tidur besok juga akan baik. sungguh".
"oke, oke kalau begitu maumu, istirahat saja dulu, tapi kau harus berjanji kalau esok belum juga membaik, kau harus mengikuti saranku!"
"ya, kita lihat saja nanti!" kataku sebelum menutup mata.
Dua hari kemudian, ketika kondisiku sudah membaik dia kembali menemuiku. diteras rumah yang teduh kami berbincang menghabiskan waktu. udara sore yang sejuk ditambah panas matahari yang mulai redup membuat kami berdua sangat santai satu sama lain.
"maaf kalau ada sikapku tidak menyenangkan hatimu kemarin-kemarin. aku merasa tidak dalam kondisi yang baik untuk bisa menemuimu!"
"aku mengerti!" hanya itu jawabmu
"apakah kehadiranku membuatmu tidak nyaman selama ini?"
tanpa tahu harus menjawab apa kualihkan pandangan ke tempat terbuka di depan rumah.
"aku tidak tahu!"
"apakah kehadiranku sedikit punya arti bagimu?"
"mengapa kau bertanya seperti itu?"
"aku hanya ingin memastikan apa yang ingin ku pastikan"
"kalau pertanyaan itu aku kembalikan kepadamu apa jawabanmu?"
"kemarin kau hanya seorang gadis yang kukenal, tapi hari ini kau adalah seseorang bagiku! dan aku ingin melangkah dengan pasti. jika kau mau membuka hatimu untuk ku, aku berjanji akan mencintai dan membahagiakanmu seumur hidupku"
tiba-tiba aku merasa luar biasa bahagia. lelaki yang baru ku kenal dua bulan lalu kini memintaku menjadi kekasihnya. adakah wanita yang menolak dipuja dengan cara itu. oh Danni, seandainya itu kamu, aku tak akan berfikir dua kali untuk mengatakan ya.
hatiku bahagia tapi juga menangis bersamaan.
"ah.. Rinda mengapa kau diam? jawablah pertanyaanku tadi agar hatiku lepas mendengarnya! ya atau tidak?"
"aku ingin mengatakan ya, tapi tidak bisa menjanjikannya! aku ingin belajar mencintaimu, tapi aku takut mengecewakanmu suatu saat nanti jika...."
"tidak ada jika, kalau kau berjanji akan mencintaiku, bagiku itu sudah cukup untuk hari ini. esok biarlah waktu yang bicara. aku berjanji akan membuatmu mencintaiku, Rinda. pasti"
sesudah itu hari-hariku dipenuhi kebersamaan dengannya. bukan hanya hatiku yang dipenuhi senyum tapi juga kedua orang tuaku. mereka sangat berharap Faradi bisa memenangkan hatiku.
dan ia benar-benar menepati janjinya. bahkan ketika ayahn sakit keras ia pulalah yang menemaniku mengantar beliau berobat.
akhirnya suatu hari hatiku benar-benar luluh. didepan ayah yang sedang sakit, ia melamarku. dan demi menyenangkan hati ayah, aku mengiyakan.
beberapa minggu kemudian kami menikah. hatikku bahagia karena keluarganya menerimaku dengan baik sebagai anggota baru mereka. setelah itu kami menjalani hari sebagai pasangan suami istri. dia sangat bertanggung jawab sebagai suami, dan kubalas dengan menjalankan tugasku sebagai istri dengan sebaik-baiknya. aku cukup bahagia debgan kehidupan baruku, tapi ada yang masih sering datang mengusik hatiku. apa kabarnya kini? apa yang dikatakan Danni jika ia mengetahui keadaanku kini? apakah ia bisa menerima hal ini? atau mungkin ia juga telah bersama orang lain? semua tanya itu kusimpan rapat dalam senyuman setiap bersama Faradi.
namun Faradi adalah Faradi yang selalu penuh perhatian bahkan untuk hal yang sekecil apapun. tepat dua bulan setelah pernikahan kami ia mengajakku berbincang di ters rumah baru kami.
"Rinda, akhir-akhir ini aku sering melihatmu termenung, mengapa? apakah kau tidak bahagia?"
"tidak apa-apa. mungkin karena tidak ada hal yang ingin kukerjakan saja"
"ayolah, jangan membohongiku! aku cukup mengenalmu untuk mengetahui setiap kebenaran yang kau ucapkan"
aku tidak ingin menyakiti hatinya dengan berdusta. akhirnya kuberanikan diri berbicara jujur.
"aku bahagia hari-hari, tapi diwaktu lalu aku pernah dekat dengan seseorang. aku ingin mengetahui bagaimana kabarnya hari ini"
"kau masih mengharapkannya?"
"aku tidak tahu apa yang ku inginkan, aku hanya merasa ada ganjalan dalam hatiku bila tidak bertemu dengannya!"
disampingku Faradi menatap kosong ke kejauhan
"kau pernah berjanji padanya?"
" bukan seperti yang kaupikir, aku hanya ingin bertemu kemudian berbincang dengannya untuk meyakinkaku tentang beberapa hal!"
"satu lagi pertanyaanku dan kuharap kaujawab dengan jujur! apa kau bahagi hari ini?"
"ya, aku bahagia!"
setelah mendengar kalimat terakhirku dia menghempaskan tubuhnya dikursi dengan pelan. ada kesan lega diwajahnya. sesudah itu semua berjalan seperti biasa, seakan tak pernah terjadi pembicaraan itu. sampai suatu pagi diakhir pekan yang mendung, ia mengajakku ke kota. perjalanan panjang selam berjam-jam terbayang melihat pemandangan kota besar dengan beraneka macam manusia. aku senang karena baru kali ini berkunjung ke ibukota provinsi yang ramai. kendaraan roda dua ataupun empat yang sangat jarang kutemui di desa bersliweran di jalan raya. disampingku Faradi menggandeng tangaku erat. kusadari aku wanita beruntung mendapat suami yang diimpikan banyak wanita; setia, gagah, tampan, berdedikasi dan yang terpenting mencintaiku apa adanya.
sampai disuatu gang kecil kamimenuju sebuah rumah. setelah mengetuk pintu cukup lama keluar seorang wanita setengah baya.
setelah berbincang sebentar Faradi mengajakku kembali berjalan melewati jalan-jalan kecil. ketika tiba kembali disebuah jalan raya, pandangan mataku terarah pada sebuah gedung tua dipinggir jalan. berbagai poster pertunjukkan memenuhi berbagai sudut disertai dengan nama-nama pemain dan jam pertunjukkannya. rupanya dugaanku tidak salah, ini adalah gedung kesenian rakyat yang menyuguhkan pentas kesenian tradisional setempat. mungkin Faradi inginmembuatku mengenal dunia dengan mengajakku ke tempat yang belum pernag ku datangi. sesaat kemudian ia pamit untuk menemui seseorang didalam dan kujawab dengan anggukan kepala.
tidak seberapa lama kemudian Faradi kembali dan memanggil namaku.
"Rinda, ada seseorang yang ingin menemuimu!" sabar dia membimbing tangan ku melewati deretan kursi yang rapat berbaris.
sampai disuatu sudut ruangan dia melepas tangan ku melewati sebuah tangga. ia menunjuk ke arah panggung yang temaram karena hanya diterangi cahaya lampu yang redup.
"disana ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, pergilah!aku tunggu kau diluar!" kemudian ia meninggalkanku sendiri
sampai deti terakhir aku masih tak bisa berpikir jernih siapa yang ingin menemuiku, mungkin salah seorang saudaranya ingin berjumpa denganku
tiba di panggung yang pengap karena gelap dan tak terawat kuhempaskan rasa takut dengan tetap melangkah. tiba-tiba langkahku terhenti olehbenderang lampu panggung yang tiba-tiba menyala. belum habis kekagetanku tiba-tiba seseorang memanggil namaku. hatiku berdetk tak karuan ketika ku sadari siapa yang memanggilku itu.
"rinda, apa kabarmu hari ini?"
seorang lelaki menghampiriku. sosoknya yang tinngi kurus mengingatkanku akan tahun-tahun ketika kami masih bersama.
ya, Danni. wajahnya tetap terlihat angkuh, sorot matanya tetap tajam menembus hati lawan bicaranya. hanya kini tubuhnya tampak lebih kurus.
"baik, dan kau apa kabarmu?" akhirnya keluar juga kalimat yang sekian lama terpendam di hati.
diiringi senyum sinis ia menjawab, "pada akhirnya aku baik-baik saja, hanya sampai detik ini aku belum juga bisa menjadi orang besar seperti yang pernah kuinginkan. aku hanya menjadi pelakon panggung yang mengandalkan akting untuk bisa hidup".
dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling ia seakan ingin menunjukkan keadaan hidupnya sekarang. dengan diam kami mencoba saling mengerti satu dengan yang lain.
"tapi setidaknya dengan menjadi aktor panggung aku bisa melakonkan apa saja yang kuinginkan. menjadi orang kaya, menjadi orang berkuasa, menjadi orang yang terkenal atau orang miskin, sakit-sakitan, dan tersia-sia. aku bisa juga menjadi orang baik yang dermawan atau seorang penjahat yang paling jahat sekalipun. tapi diatas semua itu lakon yang paling menyedihkan adalah melakonkan seorang yang hidup tanpa cinta, tak dicintai atau mencintai siapapun. lakon hidup yang sangat menyakitkan untuk diperankan. hidup dalam kesepian dan mati dalam kesendirian, bisakah kau bayangkan? menyedihkan bukan?"
dalam kalimatnyadia tetap mampu menyeretku masuk ke dalam dunianya.
"eh..Rinda,kau sendiri apa yang kau lakukan saat ini? ayo ceritakan padaku! kakamu tadi hanya mengatakan kalau kau membantu orang tuamu mengolah hasil kebun"
"kakak?"
"iya,kakak lelakimu yang tadi menemuiku sebelum kita bertemu!"
"ah..begitu rupanya!ya aku masih tetap melakukanapa yang ingin kulakukan!" Rinda mencoba mengerti mengapa Faradi mengaku sebagai kakak lelakinya.
"itulah yang membuatmu tetap cantik, setiap hari menghirup sejuknya udara pegunungan dan menjalani hidup dengan selaras. bagaimana kabar orang tuamu?"
"mereka berdua dalam kondisi yang baik walaupun beberapa waktu lalu ayah sempat sakit, tapi hari-hari ini sudah membaik"
"lalu adakah seseorang yang istimewa dihatimu saat ini?" dia memandangku. sorot matanya seperti terbuai angin. redup namun penuh harapan.
"aku bahagia hari ini akhirnya bisa menemuimu kembali, bukan hanya dalam mimpi seperti malam-malam lalu"
dengan menghembuskan nafas panjang, matanya kembali beralih ketempat lain.
"ada kalanya aku ingin menemuimu dan rasanya seperti tak tertahan lagi, tetapi bila mengingat keadaanku, langkahku seperti surut kembali. mengenalkanmu pada luasnya dunia diluar sana. mengiringimu menyanyikan lagu-lagu cinta dengan gitar tuaku. mengisi hari-hari dengan indahnya cinta, hanya kita berdua"
kemudian kami berdua diam, sesunyi malam dihati. sesaat aku terhanyut dalam lautan katanya yang memabukkan. serasa mengulang kembali setiap keindahan yang tercipta ribuan hari yang lalu. cinta yang terlalu indah untuk dikatakan dan terlalu manis untuk dikenang. yang akhirnya hilang dalam penantian yang panjang yang tak ada kepastian.
"kau telah menunjukkan padaku dunia yang indah dengan cintamu, kau telah memberiku sayap dengan membagi harapan-harapanmu padaku. kau memberi cahaya dalam duniaku yang tak terlihat, kau memberiku nama dalam duniaku yang tak bernama. untuk itu kuucapkan terimakasih yang terdalam. tapi seperti telah kau katakan padaku, hidup tak pernah cukup hanya dengan cinta, butuh dari itu untuk menjalaninya. dan aku lebih dari cukup untuk belajar bahwa cinta perlu sebuah tindakan untuk mewujudkannya, bukan hanya angan"
"kepergianmu saat itu atas nama cinta, tapi pada akhirnya itu hanya sebuah jalan untuk memenuhi keinginanmu semata. tanpa kabar tanpa berita, kau biarkan aku menanti dalam ketidakpastian. mati tidak hidup pun tidak, lalu apa?"
"jangan! jangan pernah berfikir aku kesini untuk menghakimi! aku bukan siapa-siapa untuk itu. aku hanya ingin membuat ini semua jelas bukan hanya untukmu, tapi lebih dari itu untuk diriku sendiri!"
"maaf Rinda jaika aku telah menyakitimu sedemikian rupa!" pintanya jujur
"jika saja saat itu kau tak pernah pergi mungkin hari ini kita berdua sedang memandang surya tenggelam di kaki Gunung Bango. tapi cinta telah memilih jalannya dan inilah yang terpilih"
"Danni, maaf lelaki yang mengaku sebagai kakakku sebenarnya adalah suamiku. kami menikah beberapa bulan yang lalu. dia membawaku ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu"
"dan ya.. akhirnya lelaki seperti itulah yang terpilih untukku, bukan seseorang yang besar atau kaya. dia lelaki yang tak ingin melihatku murung setiap hari memikirkan sesuatu yang tak jelas. dia cukup mengerti ketika kukatakan aku ingin bertemu dengan seseorang dari waktu lalu. dan dia membawaku padamu"
setelah beberapa waktu membisu akhirnya Danni melontarkan pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya, "dan kau... apakah kau mencintainya sebesar kau mencintaiku"
"aku pernah mencintaimu dan kemudian kehilangan. dalam ketiadaan aku mencoba bertahan. hari ini yang kurasakan berbeda.aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan, tapi yang kutahu aku tak sanggup jika harus kehilangan dia. jadi jangan tanya lagi tentang hal itu karena akhirnya aku telah belajar bahwa cinta bukan hanya bicara, tapi juga belajar mendengar, belajar mengerti dan kemudian bertindak. selamat tinggal Danni, kau adalah lelaki dewasa yang harus kembali melanjutkan hidup, begitupun dengan aku. doakan aku bahagia, seperti aku mendoakan kebahagiaanmu. carilah seseorang tempat kau bisa membagi mimpi-mimpimu, karena hidup ini terlalu singkat untuk dilalui seorang diri"
kemudian kujabat erat tangannya. di matanya butir-butir air mata tertahan. wajahnya suram, mulutnya terkatup rapat. aku tak peduli apa yang ada dihatinya. bagiku sudah cukup akhirnya ia mendengarkanku dan semua keraguanku terjawab.
ketika kemudian aku melangkah menyusuri deretan kursi, kusadari aku telah berubah. bukan lagi gadis desa yang terkungkung dalam ruang pemikiran yang sempit, tapi wanita dewasa yang telah memahami hakikat kehidupan lebih luas dan lebih dalam
setelah itu hanya satu wajah yang memenuhi semua sudut hatiku. wajah yang kutemui terpekur disisi gedung dalam diam dan gelisah. wajah suami yang sangat kucintai.
bagi beberapa orang aku adalah seorang gadis yang pernah dikecewakan oleh seorang lelaki, tapi sesungguhnya aku hanyalah seorang gadis kecil yang telah beranjak dewasa dari cinta pertamanya.
based on
indrayani puspitasari
kumpulan cerita pendek