This is My World!! I Can Do Anything in My World!!

Sayap- sayap Cinta Kemudian


Mei, 2004

"Kapan kau pergi?" tanyaku suatu senja.
"lusa" jawabmu dengan wajah mengembara.
"mengapa kau tidak bisa tinggal, lalu bagaimana dengan aku? dengan cinta kita?".
"suatu hari aku akan kembali, jika apa yang kucari sudah kudapat".
"mengapa tidak hari ini saja?" tanyaku menuntut.
"aku masih belum memiliki apa-apa untuk membuatmu bahagia!"

"kau sudah memilikinya, cintamu! aku tak menginginkan yang lain!.
"apa cukup dengan cinta saja?"
"kita akan bekerja apa saja, kau dan aku! kita mulai dari nol, pasti bisa!"
"lalu bagaimana dengan orang tuamu? apa kata mereka bila anak gadisnya yang biasa hidup berkecukupan menikah dengan lelaki yang tak punya apa-apa selain cinta?"
"mengapa kau begitu peduli apa kata mereka?"
"karena mereka orangtuamu".
"lalu kalau suatu hari mereka memintaku menikah dengan orang lain, bagaimana?" tanyaku setelah lelah beradu argumen denganmu.
"kalau kau bahagia kenapa tidak?" jawabmu kemudian dengan lirih.
Aku terdiam. aku benar-benar lelah dengan sikapmu. keputusan yang kau ambil membuatku berharap tak mencintaimu. tapi kenyataannya, cintaku bagai penjara yang membuatku tak bisa bergerak dan bernafas lega. keteguhan hati yang ingin kau tunjukkan membuat aku muak. kau hanyalah lelaki desa dengan cita-cita besar agar dianggap pantas untukku.
aku benci, aku lelah. tapi aku tak pernah mampu melupakan mu. wajahmu yang pongah terus menari sepanjang waktu.

Juni, 2009

itulah percakapan terakhir kami disuatu sore, selepas itu tak secuil pun kabar kuterima darimu hingga lima tahun berlalu. kau hilang dimakan impian untuk menjadi orang besar dan penting di kota. dan aku merana, hidup dalam ketidakpastian. pada awalnya orang tuaku senang dengan kepergianmu, namun akhirnya diam-diam merekamenyesalinya karena hingga detik ini aku masih saja sendiri. setelah lelah memaksaku menikah dengan beberapa lelaki, akhirnya mereka membiarkanku hidup dalam kesendirianku.
aku tak bisa melihat hal lain kecuali kenangan tentangmu. terlebih ketika kau katakan aku satu-satunya gadis yang kaucintai sepenuh hati. sejak saat itu mata, hati dan jiwaku tak sanggup lagi melihat ketempat lain selain padamu.

hingga suatu pagi yang bermandi matahari, aku bertemu dengannya dipinggir jalan desa. waktu terasa berhenti ketika pandangan kami beradu. matanya bercahaya dan senyumnya memaku mataku. meski sapanya tak kubalas, ia tetap tersenyum padaku.
beberapa hari kemudian kudengar cerita seorang guru datang ke desa ini menggantikan Pak Karip, guru sekolah desa yang telah berpulang sekian bulan yang lalu. apa yang dicarinya di desa terpencil ini? paling- paling cuma sebentar dia bertahan, setelah itu dia kabur ke kota mencari kesempatan lebih baik seperti yang lainnya, pikirku sambil lalu.
seminggu kemudian, Nuri, teman kecilku Menikah dengan Agung. aku memaksakan diri datang mendampingi. sebenarnya hatiku enggan, karena setiap kali muncul di keramaian pasti diberi pertanyaan yang sama, "kapan menyusul? ayo cepetan, mumpung bulan baik!" begitu selalu tetangga-tetangga mengusikku. seolah mereka lupa kisah cintaku dengan seorang pemuda desa yang pergi tanpa kabar berita.
ketika sibuk dengan lamunanku, sebuah suara menegur ramah. "Nuri malam ini tampak semakin cantik! apa suasana hati bisa memengaruhi wajah seseorang?" tanyanya bertubi.
kupalingkan wajah mencari datangnya suara. disebelah kursiku duduk lelaki yang kutemui dijalan desa waktu itu.
"mungkin" jawabku singkat.
"oya, kenalkan nama saya Faradi!" katanya sambil mengulurkan tangan. kubalas dengan menyebut namaku.
kemudian berbagai pembicaraan seputar Nuri dan yang lain membuat ku kerasan duduk bersamanya. menjelang malam aku pamit. dia bertanya apakah aku bersedia bertemu dengannya lagi. kujawab, kita lihat saja besok.
dua hari kemudian pintu kamarku diketuk dari luar.
"ada tamu ,nak!" kata ibu dengan wajah sumringah.
"siapa?" tanyaku kemudian.
"namanya Faradi, nama yang bagus sebagus orangnya!"
diam-diam jantungku berdetak lebih keras, siapa lagi yang punya nama Faradi selain guru baru yang kukenal beberapa hari yang lalu.
"maaf,mengganggu istirahatmu! aku hanya mampir untuk menagih janjimu tempo hari!" katanya memberondong.
"janji apa? memangnya aku pernah janji apa dengan kamu, kak?"
"janji untuk menemuiku lagi!"
"O, itu!" sahutku penuh basa-basi.
" bagaimana kabarmu?"
"biasa saja! kamu sendiri?"
"yah.. makin sehat karena udara pegunungan yang segar! makanya orang sini ramah semua karena lingkungannya ramah terhadap kesehatan jiwa dan raga".
"ah.. itu 'kan bagimu, karena kau baru beberapa waktu disini. kalau untuk aku yang seumur-umur disini, ya biasa saja. sifat manusia dimana-mana 'kan sama".
"kamu kok begitu pesimis? apa pernah ada masalah dengan sifat manusia disini?"
"ah, sudahlah. jangan membuat hatimu berkurang sukacitanya!"
"tidak aku hanya menyayangkannya"
"aku! kenapa dengan aku?"
"wajahmu sebenarnya cantik, tapi bisa lebih cantik lagi kalau kau lebih sering tersenyum"'
seusai kalimatnya aku hanya bisa diam. dalam hati aku menyesal mengapa orang yang baru ku kenal bisa langsung membaca keadaan hatiku. benarkah wajahku seperti buku yang terbuka, dimana semua orang akan dengan mudah membaca.
"maaf kalau perkataanku membuatmu marah!"
"kau hanya mengatakan sebuah kebenaran! mengapa aku harus marah?"
"maaf kalau boleh aku tahu namamu sebenarnya siapa? kenapa mereka memanggilmu Da?"
"Rinda. orang disini biasa memanggil dengan penggalan nama belakang".
"namamu bagus. enak didengar"
"terimakasih, bapak!"
"ha..ha..ha.. ! rupanya muridku bertambah satu hari ini".
kubalas dengan senyuman yang paling manis. tiba-tiba hatiku terasa hangat, sangat hangat. mungkin karena kehadirannya, mungkin karena cara bicaranya atau apalah aku tak tahu.
semenjak itu hari-hariku terisi kehadirannya. kedewasaannya menular padaku. hari demi hari makin dalam hatiku tersentu olehnya. tapi tetap tidak bisa kuingkari kenyataan bahwa jiwaku masih berjalan dipinggiran hutan jati bersama Danni. kalbuku masih sering mengembara ketempat-tempat yang penuh kenangan bersamanya. cintanya masih membelengguku hingga hari ini.


Suatu hari tubuhku jatuh sakitkarena tak sanggup menahan beban fikiran. ku curahkan semua beban fikiranku kepada Nuri dan ia hanya menatap tajam padaku.
"mengapa tidak kau nikmati saja cinta yang kini kau rasa? bukankah cinta tidak setiap saat datang! dan kemudian biarkan waktu yang bicara!" ucapnya menenangkan.
tapi bukannya tenang, hatiku malah bingung dan esoknya aku tak bisa meninggalkan tempat tidur karena kepalaku berat dan badanku berkeringat dingin.
pagi itu juga Faradi menjengukku. tangannya menggenggam erat tanganku. tatapannya penuh kekhawatiran. mulutnya terkunci rapat. yang ku tahu dia memikirkan sakitku. aku tertawa dalam hati. beginikah rasanya dicintai? mengapa harus dia yang hari ini bersamaku? bukannya Danni yang sangat kucinta?
"Rin, aku kenal baik dokter desa sebelah, bagaimana kalau kita kesana! mungkin dengan obat yang tepat kau akan cepat sembuh!" kalimatnya mengakhiri kebisuan kami.
"terimakasih kak Fadi, aku tidak apa-apa. hanya dengan tidur besok juga akan baik. sungguh".
"oke, oke kalau begitu maumu, istirahat saja dulu, tapi kau harus berjanji kalau esok belum juga membaik, kau harus mengikuti saranku!"
"ya, kita lihat saja nanti!" kataku sebelum menutup mata.


Dua hari kemudian, ketika kondisiku sudah membaik dia kembali menemuiku. diteras rumah yang teduh kami berbincang menghabiskan waktu. udara sore yang sejuk ditambah panas matahari yang mulai redup membuat kami berdua sangat santai satu sama lain.
"maaf kalau ada sikapku tidak menyenangkan hatimu kemarin-kemarin. aku merasa tidak dalam kondisi yang baik untuk bisa menemuimu!"
"aku mengerti!" hanya itu jawabmu
"apakah kehadiranku membuatmu tidak nyaman selama ini?"
tanpa tahu harus menjawab apa kualihkan pandangan ke tempat terbuka di depan rumah.
"aku tidak tahu!"
"apakah kehadiranku sedikit punya arti bagimu?"
"mengapa kau bertanya seperti itu?"
"aku hanya ingin memastikan apa yang ingin ku pastikan"
"kalau pertanyaan itu aku kembalikan kepadamu apa jawabanmu?"
"kemarin kau hanya seorang gadis yang kukenal, tapi hari ini kau adalah seseorang bagiku! dan aku ingin melangkah dengan pasti. jika kau mau membuka hatimu untuk ku, aku berjanji akan mencintai dan membahagiakanmu seumur hidupku"
tiba-tiba aku merasa luar biasa bahagia. lelaki yang baru ku kenal dua bulan lalu kini memintaku menjadi kekasihnya. adakah wanita yang menolak dipuja dengan cara itu. oh Danni, seandainya itu kamu, aku tak akan berfikir dua kali untuk mengatakan ya.
hatiku bahagia tapi juga menangis bersamaan.
"ah.. Rinda mengapa kau diam? jawablah pertanyaanku tadi agar hatiku lepas mendengarnya! ya atau tidak?"
"aku ingin mengatakan ya, tapi tidak bisa menjanjikannya! aku ingin belajar mencintaimu, tapi aku takut mengecewakanmu suatu saat nanti jika...."
"tidak ada jika, kalau kau berjanji akan mencintaiku, bagiku itu sudah cukup untuk hari ini. esok biarlah waktu yang bicara. aku berjanji akan membuatmu mencintaiku, Rinda. pasti"
sesudah itu hari-hariku dipenuhi kebersamaan dengannya. bukan hanya hatiku yang dipenuhi senyum tapi juga kedua orang tuaku. mereka sangat berharap Faradi bisa memenangkan hatiku.
dan ia benar-benar menepati janjinya. bahkan ketika ayahn sakit keras ia pulalah yang menemaniku mengantar beliau berobat.
akhirnya suatu hari hatiku benar-benar luluh. didepan ayah yang sedang sakit, ia melamarku. dan demi menyenangkan hati ayah, aku mengiyakan.
beberapa minggu kemudian kami menikah. hatikku bahagia karena keluarganya menerimaku dengan baik sebagai anggota baru mereka. setelah itu kami menjalani hari sebagai pasangan suami istri. dia sangat bertanggung jawab sebagai suami, dan kubalas dengan menjalankan tugasku sebagai istri dengan sebaik-baiknya. aku cukup bahagia debgan kehidupan baruku, tapi ada yang masih sering datang mengusik hatiku. apa kabarnya kini? apa yang dikatakan Danni jika ia mengetahui keadaanku kini? apakah ia bisa menerima hal ini? atau mungkin ia juga telah bersama orang lain? semua tanya itu kusimpan rapat dalam senyuman setiap bersama Faradi.
namun Faradi adalah Faradi yang selalu penuh perhatian bahkan untuk hal yang sekecil apapun. tepat dua bulan setelah pernikahan kami ia mengajakku berbincang di ters rumah baru kami.
"Rinda, akhir-akhir ini aku sering melihatmu termenung, mengapa? apakah kau tidak bahagia?"
"tidak apa-apa. mungkin karena tidak ada hal yang ingin kukerjakan saja"
"ayolah, jangan membohongiku! aku cukup mengenalmu untuk mengetahui setiap kebenaran yang kau ucapkan"
aku tidak ingin menyakiti hatinya dengan berdusta. akhirnya kuberanikan diri berbicara jujur.
"aku bahagia hari-hari, tapi diwaktu lalu aku pernah dekat dengan seseorang. aku ingin mengetahui bagaimana kabarnya hari ini"
"kau masih mengharapkannya?"
"aku tidak tahu apa yang ku inginkan, aku hanya merasa ada ganjalan dalam hatiku bila tidak bertemu dengannya!"
disampingku Faradi menatap kosong ke kejauhan
"kau pernah berjanji padanya?"
" bukan seperti yang kaupikir, aku hanya ingin bertemu kemudian berbincang dengannya untuk meyakinkaku tentang beberapa hal!"
"satu lagi pertanyaanku dan kuharap kaujawab dengan jujur! apa kau bahagi hari ini?"
"ya, aku bahagia!"
setelah mendengar kalimat terakhirku dia menghempaskan tubuhnya dikursi dengan pelan. ada kesan lega diwajahnya. sesudah itu semua berjalan seperti biasa, seakan tak pernah terjadi pembicaraan itu. sampai suatu pagi diakhir pekan yang mendung, ia mengajakku ke kota. perjalanan panjang selam berjam-jam terbayang melihat pemandangan kota besar dengan beraneka macam manusia. aku senang karena baru kali ini berkunjung ke ibukota provinsi yang ramai. kendaraan roda dua ataupun empat yang sangat jarang kutemui di desa bersliweran di jalan raya. disampingku Faradi menggandeng tangaku erat. kusadari aku wanita beruntung mendapat suami yang diimpikan banyak wanita; setia, gagah, tampan, berdedikasi dan yang terpenting mencintaiku apa adanya.
sampai disuatu gang kecil kamimenuju sebuah rumah. setelah mengetuk pintu cukup lama keluar seorang wanita setengah baya.
setelah berbincang sebentar Faradi mengajakku kembali berjalan melewati jalan-jalan kecil. ketika tiba kembali disebuah jalan raya, pandangan mataku terarah pada sebuah gedung tua dipinggir jalan. berbagai poster pertunjukkan memenuhi berbagai sudut disertai dengan nama-nama pemain dan jam pertunjukkannya. rupanya dugaanku tidak salah, ini adalah gedung kesenian rakyat yang menyuguhkan pentas kesenian tradisional setempat. mungkin Faradi inginmembuatku mengenal dunia dengan mengajakku ke tempat yang belum pernag ku datangi. sesaat kemudian ia pamit untuk menemui seseorang didalam dan kujawab dengan anggukan kepala.
tidak seberapa lama kemudian Faradi kembali dan memanggil namaku.
"Rinda, ada seseorang yang ingin menemuimu!" sabar dia membimbing tangan ku melewati deretan kursi yang rapat berbaris.
sampai disuatu sudut ruangan dia melepas tangan ku melewati sebuah tangga. ia menunjuk ke arah panggung yang temaram karena hanya diterangi cahaya lampu yang redup.
"disana ada seseorang yang ingin bertemu denganmu, pergilah!aku tunggu kau diluar!" kemudian ia meninggalkanku sendiri
sampai deti terakhir aku masih tak bisa berpikir jernih siapa yang ingin menemuiku, mungkin salah seorang saudaranya ingin berjumpa denganku
tiba di panggung yang pengap karena gelap dan tak terawat kuhempaskan rasa takut dengan tetap melangkah. tiba-tiba langkahku terhenti olehbenderang lampu panggung yang tiba-tiba menyala. belum habis kekagetanku tiba-tiba seseorang memanggil namaku. hatiku berdetk tak karuan ketika ku sadari siapa yang memanggilku itu.
"rinda, apa kabarmu hari ini?"
seorang lelaki menghampiriku. sosoknya yang tinngi kurus mengingatkanku akan tahun-tahun ketika kami masih bersama.
ya, Danni. wajahnya tetap terlihat angkuh, sorot matanya tetap tajam menembus hati lawan bicaranya. hanya kini tubuhnya tampak lebih kurus.
"baik, dan kau apa kabarmu?" akhirnya keluar juga kalimat yang sekian lama terpendam di hati.
diiringi senyum sinis ia menjawab, "pada akhirnya aku baik-baik saja, hanya sampai detik ini aku belum juga bisa menjadi orang besar seperti yang pernah kuinginkan. aku hanya menjadi pelakon panggung yang mengandalkan akting untuk bisa hidup".
dengan mengedarkan pandangan ke sekeliling ia seakan ingin menunjukkan keadaan hidupnya sekarang. dengan diam kami mencoba saling mengerti satu dengan yang lain.
"tapi setidaknya dengan menjadi aktor panggung aku bisa melakonkan apa saja yang kuinginkan. menjadi orang kaya, menjadi orang berkuasa, menjadi orang yang terkenal atau orang miskin, sakit-sakitan, dan tersia-sia. aku bisa juga menjadi orang baik yang dermawan atau seorang penjahat yang paling jahat sekalipun. tapi diatas semua itu lakon yang paling menyedihkan adalah melakonkan seorang yang hidup tanpa cinta, tak dicintai atau mencintai siapapun. lakon hidup yang sangat menyakitkan untuk diperankan. hidup dalam kesepian dan mati dalam kesendirian, bisakah kau bayangkan? menyedihkan bukan?"
dalam kalimatnyadia tetap mampu menyeretku masuk ke dalam dunianya.
"eh..Rinda,kau sendiri apa yang kau lakukan saat ini? ayo ceritakan padaku! kakamu tadi hanya mengatakan kalau kau membantu orang tuamu mengolah hasil kebun"
"kakak?"
"iya,kakak lelakimu yang tadi menemuiku sebelum kita bertemu!"
"ah..begitu rupanya!ya aku masih tetap melakukanapa yang ingin kulakukan!" Rinda mencoba mengerti mengapa Faradi mengaku sebagai kakak lelakinya.
"itulah yang membuatmu tetap cantik, setiap hari menghirup sejuknya udara pegunungan dan menjalani hidup dengan selaras. bagaimana kabar orang tuamu?"
"mereka berdua dalam kondisi yang baik walaupun beberapa waktu lalu ayah sempat sakit, tapi hari-hari ini sudah membaik"
"lalu adakah seseorang yang istimewa dihatimu saat ini?" dia memandangku. sorot matanya seperti terbuai angin. redup namun penuh harapan.
"aku bahagia hari ini akhirnya bisa menemuimu kembali, bukan hanya dalam mimpi seperti malam-malam lalu"
dengan menghembuskan nafas panjang, matanya kembali beralih ketempat lain.
"ada kalanya aku ingin menemuimu dan rasanya seperti tak tertahan lagi, tetapi bila mengingat keadaanku, langkahku seperti surut kembali. mengenalkanmu pada luasnya dunia diluar sana. mengiringimu menyanyikan lagu-lagu cinta dengan gitar tuaku. mengisi hari-hari dengan indahnya cinta, hanya kita berdua"
kemudian kami berdua diam, sesunyi malam dihati. sesaat aku terhanyut dalam lautan katanya yang memabukkan. serasa mengulang kembali setiap keindahan yang tercipta ribuan hari yang lalu. cinta yang terlalu indah untuk dikatakan dan terlalu manis untuk dikenang. yang akhirnya hilang dalam penantian yang panjang yang tak ada kepastian.
"kau telah menunjukkan padaku dunia yang indah dengan cintamu, kau telah memberiku sayap dengan membagi harapan-harapanmu padaku. kau memberi cahaya dalam duniaku yang tak terlihat, kau memberiku nama dalam duniaku yang tak bernama. untuk itu kuucapkan terimakasih yang terdalam. tapi seperti telah kau katakan padaku, hidup tak pernah cukup hanya dengan cinta, butuh dari itu untuk menjalaninya. dan aku lebih dari cukup untuk belajar bahwa cinta perlu sebuah tindakan untuk mewujudkannya, bukan hanya angan"
"kepergianmu saat itu atas nama cinta, tapi pada akhirnya itu hanya sebuah jalan untuk memenuhi keinginanmu semata. tanpa kabar tanpa berita, kau biarkan aku menanti dalam ketidakpastian. mati tidak hidup pun tidak, lalu apa?"
"jangan! jangan pernah berfikir aku kesini untuk menghakimi! aku bukan siapa-siapa untuk itu. aku hanya ingin membuat ini semua jelas bukan hanya untukmu, tapi lebih dari itu untuk diriku sendiri!"
"maaf Rinda jaika aku telah menyakitimu sedemikian rupa!" pintanya jujur
"jika saja saat itu kau tak pernah pergi mungkin hari ini kita berdua sedang memandang surya tenggelam di kaki Gunung Bango. tapi cinta telah memilih jalannya dan inilah yang terpilih"
"Danni, maaf lelaki yang mengaku sebagai kakakku sebenarnya adalah suamiku. kami menikah beberapa bulan yang lalu. dia membawaku ke sini tanpa memberitahuku terlebih dahulu"
"dan ya.. akhirnya lelaki seperti itulah yang terpilih untukku, bukan seseorang yang besar atau kaya. dia lelaki yang tak ingin melihatku murung setiap hari memikirkan sesuatu yang tak jelas. dia cukup mengerti ketika kukatakan aku ingin bertemu dengan seseorang dari waktu lalu. dan dia membawaku padamu"
setelah beberapa waktu membisu akhirnya Danni melontarkan pertanyaan yang sedari tadi dipendamnya, "dan kau... apakah kau mencintainya sebesar kau mencintaiku"
"aku pernah mencintaimu dan kemudian kehilangan. dalam ketiadaan aku mencoba bertahan. hari ini yang kurasakan berbeda.aku tak tahu apakah ini cinta atau bukan, tapi yang kutahu aku tak sanggup jika harus kehilangan dia. jadi jangan tanya lagi tentang hal itu karena akhirnya aku telah belajar bahwa cinta bukan hanya bicara, tapi juga belajar mendengar, belajar mengerti dan kemudian bertindak. selamat tinggal Danni, kau adalah lelaki dewasa yang harus kembali melanjutkan hidup, begitupun dengan aku. doakan aku bahagia, seperti aku mendoakan kebahagiaanmu. carilah seseorang tempat kau bisa membagi mimpi-mimpimu, karena hidup ini terlalu singkat untuk dilalui seorang diri"
kemudian kujabat erat tangannya. di matanya butir-butir air mata tertahan. wajahnya suram, mulutnya terkatup rapat. aku tak peduli apa yang ada dihatinya. bagiku sudah cukup akhirnya ia mendengarkanku dan semua keraguanku terjawab.
ketika kemudian aku melangkah menyusuri deretan kursi, kusadari aku telah berubah. bukan lagi gadis desa yang terkungkung dalam ruang pemikiran yang sempit, tapi wanita dewasa yang telah memahami hakikat kehidupan lebih luas dan lebih dalam
setelah itu hanya satu wajah yang memenuhi semua sudut hatiku. wajah yang kutemui terpekur disisi gedung dalam diam dan gelisah. wajah suami yang sangat kucintai.
bagi beberapa orang aku adalah seorang gadis yang pernah dikecewakan oleh seorang lelaki, tapi sesungguhnya aku hanyalah seorang gadis kecil yang telah beranjak dewasa dari cinta pertamanya.





















based on
indrayani puspitasari
kumpulan cerita pendek

ketika cinta katakan cinta

" Please, Liv. loe pertimbangin lagi tawaran gue!!" Dika mohon- mohon supaya Olivia nerima cintanya Dika en jadi pacarnya dia untuk kesekian kali juga Olivia menolak Dika yg lumayan keren tapi ngga terlalu ganteng itu

" sory, Dik. gue ga bisa. loe cari cewek laen aja , jangan gue!!" Olivia santai- santai aja nolak Dika tanpa mikir gimana ancurnya perasaan cowok yg udah dari taun kemaren ngejar dia. cuma Dika aja tuh yg bertahan yg lainnya udah pada give up ngejar si judes Olivia.

" jadi udah 10 kali nih?? belum lagi cowok yg lainnya?? sampe kapan sih,Liv? loe mau kaya gini terus? " Dilla nasehatin di tempat lain. Dilla sobatnya Olivia, dia yg tau banget soal Oliv.

"yaudah dech!! jangan bahas soal itu kenapa? gue kan kangen loe. loe ga kangen gue yah?! susah- susah nelpon nanyanya kaya gitu?!" Oliv protes. selesai telefon Oliv langsung tidur- tiduran, otaknya ga kuat tuh nerima nasehat-nasehatdari Dilla tadi, sambil tiduran Oliv inget- inget sapa aja yg udah berhasil di bikin sakit hati sama dia. rata- rata sih secara tampang mereka ga bikin malu, cuma kalo masalah perasaan ga ada yg masuk katanya.

" emang loe cari yg kaya gimana sih, Liv?" Dilla nanya 2 taun lalu, waktu masih pada SMK

" mmmhhh... kaya gimana yah? ..yg pasti sih seiman truss gue harus suka dulu sama orang itu, selebihnya No Problemo

" Oliv ngejawab sambil senyum-senyum.

"oh... gitu?? kenapa g loe pacarin Pak Diman tukang Cendol yg suka lewat depan rumah aja" Dilla ngomong sadis

"what?? yg bener aja, gue ga mau yah, jadi ibu tiri anak- anaknya dia!! lagian do'i ketuaan buat gue! dasar loe!"
Oliv sendii nge-jayus

"eh, si Dika kan lumayan. kenapa di biarin gitu?"

"maksud loe, gue harus makan dia gitu? sory yah, gue bukan kanibalism!!" OLiv cuek padahal daritadi yg lagi di omongin senyum- senyum ga jelas di seberang lapangan basket, dia nyadar lagi diomongin kali, dasar keturunan Bugs Bunny.

" Liv, loe ga takut disebut sok jual mahal? 'cause udah sering nolak- nolak cowok!!" Dilla cemas karena temennya ini single sejati banget

"lho? emang kenapa mesti takut? gue ga pacaran bukan berarti ga ada cowok yg gue suka tau!" Oliv cengengesan ke arah Dika, alhasil makin salting aja tuh si Dika.

"tapi, meskipun gue suka sama dia, dan ternyata dia juga suka sama gue trus nembak gue. belum tentu juga gue bakal terima dia" ekspresi Oliv berubah.

"apa? kenapa, Liv?" Dilla heran

"gue punya masa lalu yg ga enak sama cowok, bukan gue sih tapi kak Oxsel! gue takut aja,apa yg dialamin kakak gue juga sama kejadian ke gue"

"loe jangan punya fikiran kaya gitu, sifat orang kan beda- beda, Liv" Dilla ngasih tau

"yah, tapi sama aja, intinya kaya gitu, dari cerita temen- temenlain juga rata- rata kaya gitu, gue ga mau aja jadi korban juga" Olivia hampir nangis

" yaudah- yaudah, by the way sapa cowok beruntung yg loe sukain itu, ehmm..." Dilla ngalihin pembicaraan dan usahanya berhasil bikin si Oliv kaga cemberut lagi tuh. Dilla ngga nanya-nanyain lagi kenapa Oliv trauma sama cowok, fikirnya nanti juga Oliv bakal cerita tanpa di tanya duluan.

"... ngga ah! gue malu!! pipi Oliv berubah warna kaya bunglon yg nyamar di buah apel merah.

" sejak kapan loe punya malu? loe kan ga tau malu!?" Dilla tega banget

"sialan loe!!" OLiv sewot. tapi emang Oliv ga bener- bener marah tuh dibilang gitu, ledek- ledekan gitu udah biasa buat mereka. tadinya Oliv bersikeras ga kan ngasih tau sapa orangnya, tapi setelah dipaksa..

" mmm... namanya....."

Teng... teng... bell tanda masuk kelas berbunyi

"yaudah,dill. gw masuk dulu yah" Oliv kabur kaya belut. tinggal Dilla yg misuh- misuh

"Oliv....." teriak Dilla. itu terakhir kali Dilla nanya soal cowok ke Olivia sebelum kelulusan SMA yg akhirnya misahin mereka. Olivia stay di jakarta sedangkan Dilla pindah ke Bogor.

dilain tempat...
"gw gak akan nyerah wira. lu tau gw kan?" Dhika bersikeras

"yah,gw kan cuma ngasih saran aja. siapa tau aja kan lu bisa dapetin cewek yg lebih dari Oliv." Wira ngasih pendapat, tapi lagi- lagi cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan alias dicuekin ma Dhika.

"gw punya prinsip, pantang buat gw nyerah sebelum gw puas sama apa yg gw kejar. sebelum si Olivia ngejelasin kenapa dia gak mau nerima gw, gw akan terus ngejar dia" Dhika semangat kalo ngomongin soal prinsip, katanya cowok itu harus punya prinsip biar ga di remehin sama cewek.

"iya dehh, gw emang salut sama lu yg punya pendirian kuat." Wira ngalah
Dhika, Wira, sama Olivia kuliah di satu Perguruan Tinggi yg sama. Nguntungin banget buat Dhika Pedekate abis- abisan sama Olivia.

Hari ini Olivia mau ketemuan sama Dilla, janji ketemuan di salah satu Mall di waktu yg udah disepakati.
"lu dimana,Liv?"sembur Dilla saat teleponnya dajawab Oliv

"bentar lagi gw sampe, sabar yh...." rayu Oliv

"yaudah, jangan pake lama." tuutt.... telepon ditutup Dilla. dia pasti lagi kepanasan ngehirup hawa Jakarta lagi, ditambah gw telat datang, pasti mukanya Dilla kaya wortel rebus deh. "sory yh,Dill" dalem hati sambil buru-buru naik ke lantai atas Mall.


"Dilla??" seseorang manggil namanya dari belakang. dengan perasaan deg-degan Dilla nengok kearah suara orang yg manggilnya itu. "benerkan loe Dilla, apa kabar Dill??" orang itu sok kenal banget sambil ngulurin tangannya nanyain kabar.

"Dhika,yah? baik. loe? " Dilla masih dengan perasaan gak percaya sama apa yg diliatnya ngejawab uluran tangannya.

"iyah, ngenalin juga nih? gw juga baik. loe gemukan yh sekarang?" Dhika sok akrab banget pake ngomentarin kondisi badan Dilla yg nggak kurus itu.

"sial loe, ngapain loe disini?" Dilla ngalihin pembicaraan

"lah.. mestinya gw yg nanya 'ngapain loe disini?' bukannya loe di Bogor?" Dhika balik nanya

" gw lagi nunggu orang. trus loe ngapain?" Dilla ga bilang mau ketemuan ma Olivia, mencegah hal yg ga diinginkan

"gw lagi...." baru aja Dhika mau jawab tau-tau "Dhika....loe kok malah disini sih? ninggalin gw gitu aja " rengek seseorang dari arah berlawanan, seorang cewek ABG, manja banget suaranya, pengen Dilla getok jadinya.

" maaf-maaf, ini gak sengaja ketemu temen SMA" suara si Dhika ikut-ikutan manja ngejawab pertanyaan anak cewek ini, mana pake acara rangkul-rangkul lagi Dilla yg ngeliatnya jadi keki sendiri.

" oh iya, kenalin deh ni Dilla temen aku, Dilla ini Dinda" Dhika ngenalin mereka berdua, diluar dugaan cewek manja yg namanya Dinda ini mukanya berubah sumringah ngulurin tangan sambil nyebutin namanya

" hai.. aku Dinda" sambil senyum

" Dilla. " Dilla ngejawab singkat banget. si Dinda ini manja lagi sama Dhika minta dia ngikutin cewe ini sambil narik2 tangan pula, persis anak kecil minta permen sama emaknya.
"iya-iya, sebentar. kamu jalan duluan yah.." pinta Dhika pada ABG ini. yg disuruh mau aja lagi trus masuk ke salah satu outlet disitu.

" Dill, gw minta nomor HP loe donk" Dhika buru- buru ngambil HP berniat untuk save nomor HP Dilla. Dilla pun ngasih tau nomor HP nya. "thanx yah. yaudah, nanti gw telephone loe. salam buat Oliv yah" Dhika buru-buru nyamperin Dinda. "tunggu dulu, berarti dia tau donk kalo gw mau ketemu Oliv? euww..stupid-stupid-stupid" gerutu Dilla dalem hati sambil mukul-mukulin kepalanya.

" kenapa loe??" suara cewek yg udah Dilla hafal banget, yg rencananya mau Dilla omelin sekaran ada didepan mata Dilla sambil keheranan. baru beberapa jam Dilla di Jakarta atmosfernya udah berubah gini.

" euwwhhhh.... Olivvvv!!!" teriak Dilla sekencengnya pas baru nyadar

" holly ,shit. i can heard you! don't scream like that anymore. mau bikin gw masuk UGD yh" Olivia marah-marah denger teriakan Dilla

" kok jadi loe yg marah? harusnya gw yg marah tau gak? loe tau ini jam berapa?" Dilla balik marah suaranya gak kalah sama toa masjid. Olivia yg baru nyadar cengengesan gak jelas

" ehhehehe.... maaf yah Dilla sayang" Olivia langsung mijit-mijit pundak Dilla yg sama sekali gak pegel. "gw tlaktir deh kali ini. loe mau apa? makan? nonton? main game? bilang aja..yahyahyah...?" Olivia ngerayu. gak lama mereka udah ada di foodcourt dengan beberapa piring yg isinya tinggal setengah.

" loe kok diem aja sih dari tadi, masih marah sama gw?" Olivia membuka pembicaraan, Dilla masih dengan diamnya. "i don't feel easy when you talking without looking into my eyes...." ringtone HP Dilla bunyi memperdengarkan lagu Understand Me nya Endah n Rhesa. nuuttt.... cuma missed call, trus ada ringtone SMS juga. keki juga Olivia di cuekin gini sama dia, sambil manyun Olivia terus nunggu Dilla ngomong. 1 menit... 5 menit... sampe 20 menit Olivia nunggu ehh yg ditungguin malah cekikikan sambil ngotak-ngatik HP nya.

" SMS an ma sapa sih?" Gw nanya ketus ke Dilla, " gw kan udah minta maaf, kok malah gw dicuekin gini sih?" Olivia ngambek.

"so.. gw mesti gimana? maafin loe gitu? trus lupain kejadian ini, dan kita ngobrol lagi seperti biasa?" dilla jawab gak kalah sinis. Olivia kaget, gak nyangka Dilla bakal ngomong kaya gitu. Olivia nunduk, nahan airmata. sambil ngeluh dalem hati "kok bisa-bisanya Dilla bilang kaya gitu sama gw?".

"kenapa loe? nangis? dasar cengeng!!" Dilla mengolok-olok Olivia terus-terusan. "apa dengan loe nangis, sunny bakal balik lagi? loe sendiri yg bilang kan? loe gak akan nangis lagi? masa baru kaya gini aja udah mewek?" Dilla cengengesan, tawanya menyeringai persis kaya srigala yg berhasil menjerat mangsanya. kata 'sunny' emang sebutan gw buat nyebut kata 'pacar' dari zaman nya film cinta Pertama nya Bunga Citra Lestari yg punya pacar namanya sunny, yg dalam cerita meninggal gara-gara sakit. dan Dilla tau banget itu. nangis gara-gara cowok itu sesuatu banget.

"oh My God!!!! i got the trap? oh, man.." gw ngeluh "rese banget dah" bibir Olivia makin maju.

"gw tadi ketemu Dhika tau, tapi sama cewek,ABG. pacarnya kah?" Dilla ngomong waktu lagi di mobil arah rumah Olivia. Dilla mau nginep sehari dirumah, euhh..jadi Ratu kan dia dirumah Olivia -__-"

"lah?.. kok nanya ke gw? mana gw tau?" Olivia kaget ditanya gitu, double kaget. pertama dia kaget baru tau kalo jomblo abadi itu sekarang punya cewek,ABG pula. kedua gw gak tau kalo Dhika ternyata udah bisa lepas dari jatuh cinta akut sama dia dan cari cewek lain.

"yasihh, tadi gw liat pake mata kepala gw sendiri. manja gitu ceweknya. tapi imut tampangnya sih" Dilla ngasih tau hal yg gak pengen Olivia tau. keliatan dari mukanya berubah gitu. "loe kenapa,liv? kok beda gitu ekspresinya? loe cemburu yah???" Dilla menggoda Olivia

"hah?? ga penting banget dehh.." Olivia salting, konsentrasi nyetirnya keganggu hampir mau nabrak trotoar jalan. Dilla ikutan kaget sambil baca istigfar, tapi masih terus ngegodain Olivia.

"tapi sekarang si Dhika beda yah? gw sampe pangling liatnya? agak-agak gimana gitu" Dilla terus-terusan ngomong.
malem ini gak seperti malem yg Olivia harapkan. kenapa perasaannya jadi gak karuan gini,terakhir kali yg dibahas soal Dhika, kenapa cowok itu yg sekarang ada difikirannya. dari tadi Dilla sibuk bales-balesan SMS terus, Olivia malah gak ditanggepin gini. dia gak yakin Dilla bales SMS dari Niko, soalnya pacarnya itu paling BBM atau telephone. bikin penasaran aja sih.

besoknya pas Olivia ke kampus setelah nganterin Dilla ke stasiun untuk naik KRL, dia ketemu Dhika. untuk pertama kalinya dia sebel banget liat mukanya pagi ini, bikin ilang mood hari Rabu Olivia aja dia. pas di perpus dia ketemu Wira, CeEs nya si Dhika yg tau-tau ngajakin ngobrol, tumben ni anak nanya Olivia. pas tau-tau nyebut nama Dhika Olivia keceplosan nanya Anak ABG cewe yg kemaren diliat Dilla

" ohh.. si Dinda yah? mm..gw juga ga tau tuh hubungan mereka kaya gimana cz akhir-akhir ini si Dhika jarang cerita lagi" Wira cuap-cuap

" loe tau kalo si dhika udah give up ngejar gw juga" Olivia ngeberaniin nanya ini juga, kepalang tanggung, kalo mesti malu yah malunya jadi sekalian.

" mm..dia sih pernah bilang soal prinsip "pantang pulang sebelum menang" jadi sebelum dia dapetin loe dia gak akan berenti ngejar Cinta loe. gitu katanya. yah..tapi itu kan dulu yah? kalo sekarang gw juga wajarin aja kalo prinsipnya luntur, abis loe sendiri ga pernah ngasih kejelasan sih. ehh,,kenapa loe nanya itu?" Wira nanya Olivia setelah ngomong panjang lebar. "cemburu loe,yaa??" Wira ngegodain Olivia sambil cengengesan

"apaan sih.dah ah,gw ada kelas" Olivia cabut dari perpus.
pulang kuliah masih jam 4 sore, males banget mesti dirumah sendirian. alhasil Olivia mutusin buat jalan-jalan di mall. keluar-masuk outlet yang ada disitu, sampe disatu outlet DVD tangannya gatel buat ngambil headphone nyoba dengerin lagu. selesai dari situ Olivia nyoba nyari lagu di deretan DVD yg dipajang dan disusun rapi. lagi asik nyari album gak jauh dari situ ada anak cewek ABG jinjit-jinjit mencoba ngeraih salah satu album yg ada di deretan ke 3 dari atas. lama-lama dia liatin kasian juga, Olivia deketin anak ABG itu trus dia tanya mau ngambil yg mana. Olivia pun ngebantu anak ABG itu buat ngambilin DVD, abis bilang makasih anak tadi langsung pergi. pas Olivia mau bayar DVD yg dia beli, dia papasan sama anak ABG tadi, anak ABG itu nyapa Olivia karena persis ada dibelakang antrian dia sambil ngegandeng cowok yg Olivia hafal dan kenal banget, cowok itu gak kalah kagetnya sama Olivia. Olivia yg gengsi belaga biasa-biasa aja.

"ehh, haii..oh iyah gw duluan yah.bye" Olivia motong pembicaraan setelah baca situasi kalo Dhika mau ngomong sesuatu dan langsung pergi. dhika yg berniat ngejar tapi ditahan sama Dinda.

bayangan- bayangan kejadian hari ini muter terus di otak Olivia, kaya kaset yg di rewind berulang-ulang. Olivia jalan tanpa tujuan kaya anak ayam kehilangan induknya. yg ada difikirannya saat ini Mamanya, dimana dia saat Olivia butuh? saat anak remaja lain bisa menghabiskan waktu bareng Mamanya, belanja bareng mama nya, ke salon bareng mama nya. yups, saat ini dia butuh temen curhat butuh seseorang yg mau dengerin keluh kesahnya selama ini, bukan Dilla! bukan sekedar teman! tapi seseorang yg punya ikatan darah sama dia. buru-buru dia ambil Handphone, mengetik beberapa angka yg sudah amat hafal diluar kepalanya.

"Ma.. aku butuh mama!" jawabnya singkat saat suara diseberang telephone terdengar. mama datang 1 jam kemudian, masih dengan pakaian rapi. mama nya yg pulang langsung ke kamar Olivia yg sedari pulang dari mall mengurung diri. pelukan hangatnya mama sedikit mengurangi rasa sedihnya. sedih! yups, yg dirasakan Olivia saat pulang dari toko DVD tadi, saat melihat Dhika bersama cewek lain, mungkin perasaan Olivia pada Dhika sudah mulai tumbuh, entah sejak kapan. Olivia sendiri mulai merasakannya saat Dhika cuti kuliah beberapa bulan lalu, Olivia merasakan kerinduan saat dengar cowok yg rajin PDKT ma dia keluar kota. entah itu rindu karena suka atau karena kekonyolan-kekonyolan Dhika waktu ngegombalin Olivia. apalagi setelah kejadian ini, Olivia makin yakin kalo dia bukan hanya sekedar butuh sosok penghibur disaat padatnya jadwal kuliah tapi Olivia butuh sosok yg ada di diri penghiburnya itu. saat yg lain udah pada sibuk dengan urusannya masing-masing Dhika justru masih konsisten deketin Olivia sampai beberapa hari lalu, sampai berita itu diliat sendiri oleh Olivia. sakit banget rasanya.

"ma.. apa Olivia udah terlambat untuk bilang sayang sama Dhika?" Olivia pun memberanikan nanya pertanyaan yg sebenarnya gak perlu ditanyain ke mama nya, yg Olivia fikir udah amat sangat terlambat untuk ditanyakan

"sayang..jangan pernah merasa telambat kalau kamu sendiri belum mencoba. kita gak akan pernah tau kalau kita gak berusaha untuk mencapai keinginan kita"

"bener kata mama. Oliv,ga akan nyerah ma." Olivia semangat, dipeluknya mamanya.

"yaudah, kamu istirahat ya sayang" mamanya bilang sambil mengecup kening Olivia.
besoknya dikampus Olivia ketemu Wira, dan Dhika. inget hal kemarin bikin unmood Olivia ke Dhika muncul lagi.

"Liv,,loe baik-baik aja kan?" apa-apaan ini? kok malah Dhika yg jadi ngerasa ga enak ke Olivia, Olivia sendiri gak nyangka respon dhika kaya gitu ke dia, Olivia kira Dhika bakal ngeledekin dia setelah kejadian kemaren, kejadian 'lari dari kenyataan' ala Bollywood, harusnya kalo Dhika ngerti Olivia gak punya perasaan ke dhika Olivia gak mesti pergi gitu aja kan?, apalagi sikap cuek Olivia ke Dhika. tapi ini beda banget "apa perasaan bersalah ini nunjukin kalo Dhika masih punya perasaan sama gw?" Olivia bertanya-tanya dalem hati. wajah Olivia berubah sumringah, Dhika belum tau perasaan Olivia yg udah beda ke dia. "eh,,apa Dia emang pura-pura bego aja trus ngetest gw? ohh,gitu? hmm.. mending gw tanya dulu aja" Olivia ngomong sama hati kecilnya

"tentu, kenapa? loe berharap gw gak baik?" Olivia ngejawab ketus.

"syukurlah, gw takut loe kenapa-napa,Liv. kemaren kenapa loe lari gitu aja? gw kan pengen ngomong sesuatu sama loe" Dhika to the point. si Wira cengengesan, ngerti kayaknya dia bikin gw salting.

"gu..gw..gw buru-buru lah" Olivia gelagapan ngejawab pertanyaan Dhika. Dhika ngerti dan gak berani nanya-nanya Olivia lagi.


seminggu setelah kejadian itu Olivia belum berani bilang sama Dhika, gengsi banget. padahal hari ini Ultah nya Olivia, tapi gak seperti tahun-tahun kemarin Olivia males buat ngerayain hari jadinya tahun ini. ke kampus hari ini tumben banget Olivia pake Dress selutut, sepatu flat putih pink dipilih nya, rambut nya yg udah sepunggung sengaja di gerai. pas mau pulang Olivia di cegat sama Dhika, Olivia yg kaget ngomel-ngomel sama Dhika.

"pokoknya gw pengen loe ikut gw. gak usah banyak nanya!" Dhika maksa Olivia, dipegangnya tangan Olivia sekencengnya suypaya Olivia gak kabur. Olivia nurut juga. Dhika sama Olivia sampe disebuat caffe, lantai atas caffe itu atapnya terbuka ngasih liat pemandangan yg indah banget, seluruh kota keliatan dari sini belum lagi pemandangan sunset nya yg amazing. "darimana Dhika tau tempat ini? kok gw ga tau?" Olivia ngedumel dalem hati lagi-lagi. Olivia diminta duduk dulu sedangkan Dhika masuk ke toilet dulu, gw disuruh pesen duluan tapi gw belum mau. tau-tau ada cewek yg yg nyamperin Olivia pake seragam waitress tanpa liat muka cewek yg keliatan dari badannya anak ABG ini

"pesennya nanti aja,mbak. saya nunggu temen saya aja"

"kakak gak mau nyobain cake mocca nya? enak lho kak.." cewek ini sok kenal banget, tapi suaranya Olivia hafal. suara cewek ABG yg waktu itu diajak Dhika. Olivia kaget ngeliat cewek ABG yg senyum-senyum ke dia, belum lagi kagetnya ilang dari dalem dapur muncul temen gw Dilla yg pake seragam waitress juga sama pacarnya yg pake seragam koki. "ini pesta kostum atau apa sih?" Olivia heran

"diminum yah,kak" Dilla senyum-senyum sambil menaruh minuman yg keliatannya seger banget. Olivia langsung ngabisin setengah gelas minumannya sekali teguk. "si Niko juga bawa apaan lagi nih" Olivia cuma ngelirik bawaannya Niko matanya nyari-nyari sosok Dhika, berharap dapet penjelasan atas ini semua, tentang cewek ini, tentang Dilla sama pacarnya yg ada disini, trus apalagi. tau-tau ada Mama Olivia juga dibelakang Mama ada apaan tuh? kereta pendorong makanan yg diatasnya ada sebuah kue tart Ulang tahun yg lumayan gede didorong dua orang temen kampus Olivia. kue itu jelas buat Olivia yg keliatan dari tulisannya 'Happy Anniversary Olivia', buru-buru tangannya ditaruh didepan mulut menahan kaget sekaligus terharu, siapa dibalik semua ini?

"happy birthday to you.. happy birthday to you..happy birthday Olivia..happy birthday to you..!!! Olivia selamat Ulang tahun yah" suara Dhika terdengar di seantero caffe melalui salon-salon speaker yg ada disitu. Olivia nyari arah asal suara tersebut dan nemuin Dhika di seberang kolam renang yg duduk di kursi ala penyanyi caffe plus para pemain alat musik dibelakangnya. gak sampe disitu Dhika juga nyanyiin lagu 'everyday i love you - nya Boyzone' udah kaya penyanyi profesional gitu. selesai nyanyi Dhika nyamperin Olivia

"Olivia .. happy birthday, may god bless you every second, every minute, every hour, every day, and so on. I know I do not have the right to continuously ask the same thing every day that I knew the answer. but for the last time, now I want to emphasize once again. on this day, the day you were born. I love you Olivia .. Did not you be my lover?" pinta Dhika seraya berlutut dihadapan Olivia bak Pangeran mempersunting Permaisuri, Dhika memberi kode pada cewek yg Olivia anggap pacarnya, hati Olivia lagi-lagi kesel.

"ini Oom Dhika.." suara manjanya terdengar ditelinga Olivia seraya ngasih sebuah kotak yg diberi pita rapi,kado mungkin,tapi yg bikin kaget lagi kenapa si dhika dipanggil Oom

"Oom??? bukannya loe pacarnya Dhika??" Olivia kelepasan trus buru-buru nutup mulutnya pake tangan.

"bukan,Liv. Dinda tuh sepupu 2kali nya Dhika. sory gw gak ngasih tau loe,gw dipaksa" Dilla ngomong sambil ngelirik Dhika bikin Olivia nyadar dan tau siapa yg dimaksud Dilla. ternyata ini semua ide nya Dhika, pesta Ultah paling mengesankan karena Mama nya bisa hadir disini. Olivia seneng banget.

"so ... what's your answer?" Dhika sabar nunggu jawaban Olivia

"i did!" Olivia menjawab mantap. seolah gak percaya sama apa yg didengar Dhika ngulang pertanyaannya lagi

"Olivia... mau gak loe jadi pacar gw?"

"gw mau" Olivia ngulang jawabannya. Dhika yg tadinya berlutut pun sontak mengecup tangannya dan meluk Olivia yg ikutan membalas pelukannya.

"makasih yah,Liv" Dhika lepas pelukannya kemudian memberikan kado yg dipegangnya tadi. Olivia gak ragu lagi. Dia yakin sama perasaan nya ke Dhika apalagi setelah apa yg Dhika lakuin sampai saat ini untuk Olivia.

"I Love you, Dhika" bisikan Olivia di telinga Dhika serasa bisikan paling indah yg Dhika dengar hari itu.










03-06-2012
im my memorize
RAIAROHALIE ;)